Ada alasan kenapa film ini sering di-re-run di televisi Indonesia dan selalu ditonton:
Tidak bisa dipungkiri, keberadaan Despicable Me 1 dubbing Indonesia menjadi salah satu faktor ledakan popularitas franchise ini di tanah air. Sebelum viral sebagai meme dan produk merchandise, masyarakat Indonesia mengenal Gru dan Minion pertama kali lewat tayangan TV dengan suara akrab berbahasa Indonesia.
Bahkan, hingga saat ini, jika Anda bertanya kepada orang dewasa di Indonesia, "Dialog apa yang paling diingat dari Despicable Me?" Banyak yang akan menjawab, "Aku benci sekali melihat anak-anak imut, lucu, dan menggemaskan!" (versi dubbing dari kalimat Gru: "I hate seeing cute, adorable, cuddly little children!"). Kalimat ini terdengar jauh lebih sarkastik dan lucu dalam bahasa Indonesia berkat permainan vokal yang apik. despicable me 1 dubbing indonesia
Salah satu daya tarik utama film ini adalah interaksi Gru dengan tiga gadis yatim piatu: Margo, Edith, dan Agnes. Dalam versi dubbing Indonesia, karakter mereka justru terasa lebih hidup.
Sentuhan bahasa Indonesia yang santai membuat karakter anak-anak ini terasa sangat natural, seolah-olah mereka adalah anak-anak di lingkungan sekitar kita. Ada alasan kenapa film ini sering di- re-run
"Minions Speak Indonesian: How Despicable Me 1 Found Its Heart in Local Dubbing"
Tidak semua anak Indonesia fasih berbahasa Inggris. Dengan adanya dubbing Indonesia, anak-anak bisa fokus pada visual dan jalan cerita tanpa terbebani membaca subtitle. Film ini pun menjadi tontonan keluarga yang inklusif, dari balita hingga kakek-nenek. atau HBO Asia)
Dalam versi aslinya, suara Gru diperankan oleh Steve Carell yang sangat khas dengan aksen palsu Eropa Timurnya. Tantangan besar bagi pengisi suara Indonesia adalah bagaimana menangkap esensi "kebapakan" namun jahat yang konyol ini.
Di versi dubbing Indonesia (biasanya yang tayang di RCTI, GTV, atau HBO Asia), suara Gru digarap dengan sangat apik. Pengisi suaranya berhasil menangkap nada rendah dan aksen "aneh" Gru, membuat karakter ini terasa dekat dengan penonton Indonesia. Terkadang, ada sentuhan humor lokal atau intonasi yang sangat relate dengan budaya populer kita, membuat Gro terdengar seperti "Om Galak" yang sebenarnya berhati lembut.