Shrek 1 Dubbing Indonesia ⭐ 🔖
Donkey (English): "You're gonna eat me, aren't you?"
Indonesian Dubbing:
"Lo mau makan gue, ya kan?"
Shrek: "I'm not gonna eat you. You're too skinny. Now move."
Indonesian:
"Gue nggak bakal makan lo. Lo terlalu kurus. Sekarang minggir."
Donkey (rambling):
"Tapi serius, lo keren banget. Warna ijo gitu, keren. Lo punya tanduk? Nggak. Punya surai? Nggak juga. Tapi tetap keren!"
Indonesian Sing-along version (lyrics adapted):
"Dulu ku pikir cuma mimpi
Tapi kau buat aku percaya
Karena ku lihat wajahmu
Kini aku… jadi percaya!"
Bagi anak-anak yang tumbuh besar di awal tahun 2000-an, menonton film kartun di televisi nasional (seperti RCTI, SCTV, atau Trans TV) adalah sebuah ritual sakral. Namun, ada satu fenomena yang membuat film animasi Hollywood terasa begitu "dekat" dengan keseharian kita: dubbing dalam bahasa Indonesia.
Dari sekian banyak film yang disulih suara ke dalam bahasa Indonesia, Shrek 1 menempati posisi spesial di hati pecinta film tanah air. Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah, keunikan, serta alasan mengapa Shrek 1 Dubbing Indonesia masih dicari dan didiskusikan hingga hari ini.
Karena bukan rilisan resmi dari studio besar (DreamWorks tidak pernah mengakui versi anarkis ini sebagai produk mereka), versi ini hanya beredar di: Shrek 1 Dubbing Indonesia
Shrek (bursting in):
"BERHENTI!"
Farquaad: "Ogre… bagaimana kau bisa masuk?"
Shrek:
"Gue punya naga. Masalah buat elu."
To Fiona (without mask):
"Aku… aku cuma ogre jelek. Tapi aku…"
Fiona: "Aku juga jelek di malam hari."
Shrek: "Jelek? Cantik. Buat aku."
The Indonesian dub is celebrated for matching voices with the characters’ personalities while adding local flavor:
| Character | Indonesian Voice Actor | Notes | |-----------|------------------------|-------| | Shrek | Yusuf “Ucup” Rasyidin | Deep, gruff yet surprisingly emotional; his “Awas, aku menggigit!” (“Careful, I bite!”) became iconic. | | Donkey | Fajar “Jarwo” Nugraha | High-energy, rapid-fire, with Sundanese interjections (e.g., “Aduh, tos!”). Often compared to a local ojek driver. | | Princess Fiona | Titi Kamal (speaking) / Ari Lasso (singing – “I’m a Believer”) | Titi gave Fiona a sassy, independent tone. Ari Lasso’s pop-rock rendition of the finale song was unique; the rest of Fiona’s songs were spoken. | | Lord Farquaad | Iang Darmawan | Nasal, pompous, and hilariously petty – perfect for the diminutive villain. | | Gingerbread Man | Ria Irawan | High-pitched and whiny; her cry of “Bukan kue jaheku!” (“Not my gingerbread cookie!”) is a fan favorite. | | Dragon | Nani K. Sidik (as a deep female voice) / Robby Tumewu (as additional roars) | Deep, sultry, and intimidating – a rare choice to use a woman for the dragon’s speaking voice. |
Note: Some sources list different voice actors for TV re-dubs; the above is the original VCD release cast.
Diisi oleh suara yang lembut namun tegas, cocok dengan dualisme karakter Fiona yang di siang hari wanita anggun dan malam hari menjadi ogre. Sayangnya, pengisi suara versi spesifik ini kerap tidak tercantum dalam kredit VCD bajakan saat itu, membuat mereka menjadi "pahlawan tanpa nama".
| Version | Voice Actor (Shrek) | Availability | Fan Reception | |---------|--------------------|--------------|----------------| | SCTV / Vision VCD | Diding Boneng | Hard to find (VCD/YouTube rip) | Very beloved, nostalgic | | Disney+ Hotstar | Unknown newer actor | Easy (streaming) | "Too clean, less funny" | | RCTI dub (early 2000s) | Different actor | Almost lost | Rare, less known | Donkey (English): "You're gonna eat me, aren't you
Tip: If you want the original Indonesian experience, hunt for the SCTV dub. If you just want to understand the story in Indonesian, use Disney+.

